Memahami Gerakan Desa Baru atau Gerakan Masyarakat Madani

Memahami Gerakan Desa Baru atau Gerakan Masyarakat Madani
Memahami Gerakan Desa Baru atau Gerakan Masyarakat Madani

Gerakan Desa Baru atau Gerakan Masyarakat Madani (Saemaul Undong) telah menyebar ke seluruh dunia berkat kinerjanya selama beberapa tahun yang lalu.

Banyak orang asing mengunjungi Korea hanya untuk mencari tahu apa itu Keajaiban Sungai Han berkat Saemaul Undong, mengingat Saemaul Undong sebagai model yang sukses untuk mengembangkan masyarakat di negara-negara berkembang.

Sekjen PBB tahun 2015 merekomendasikan penggunaan model Saemaul Undong untuk pencapaian Sustainable Development Goals (Society 5.0) karena di anggap sebagai the best model untuk Community Development dan Social Responsibility Program. 

Sudah 147 negara yang belajar Saemaul dan lebih dari 80 negara hadir setiap acara tahunan Saemaul Undong Global League Forum dan bulan November tahun 2016 yang lalu sudah dideklarasikan Saemaul-Undong Global League yang beranggotakan lebih dari 33 negara yang menerapkan pelatihan dan implementasi dari Saemaul Undong.

Gerakan Desa EMAS (Indonesia Saemaul Undong Global League) merupakan modifikasi dari Saemaul Undong yang sudah disesuaikan dengan budaya Indonesia yang beragam dan hampir 90% adalah umat Islam, namun tujuannya satu jua yaitu adil makmur dan sejahtera atau biasa disebut Bhinneka Tunggal Ika dengan “jalan hidup” nya adalah  Pancasila yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa dan budaya Molimo serta Undang Undang Dasar 1945, khususnya pasal 33 atau Demokrasi Ekonomi yang berarti kesejahteraan itu harus merata secara proporsional, antara desa dengan kota, antara pulau Jawa dengan Pulau pulau lainnya, antara suku dengan suku lainnya antara agama dengan agama lainnya sehingga harta tidak hanya beredar di kota atau orang kaya saja namun juga di desa di kalangan petani dan jelata.

Presiden Korea Selatan, yang hanya mengenal dan mengamalkan sepotong ayat al-Quran, yang dia lihat dalam Kamar Operasi Wakil Perdana Menteri Malaysia waktu itu, Tun Abdul Razak, serta meneladani strategi hijrah Nabi (mulai dari Madinah atau remote area berakhir di Mekkah), dapat menstimulasi perkembangan Korea Selatan secara pesat. Pada papan di dalam kamar tersebut ada sebuah kaligrafi bertuskan ayat Al-Quran yang berbunyi: ‘Innallaha la yu ghairuma bi qaumin hatta yu ghairuma bi anfusihim’ (Q.13. Ar-Ra’d: 11) yang artinya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum tersebut merubah nasibnya sendiri. Bagi Park Chung Hee, itu sama dengan filosofi Korea “ Tuhan (Heaven) membantu mereka yang membantu diri mereka sendiri” artinya berdikari (Can Do, Will Do, Must Do) yang menjadi inspirasi menggerakkan program pembaharuannya yang diberi nama “Saemul Undong”. Pada akhirnya Saemaul Undong atau Gerakan Desa/Masyarakat EMAS adalah suatu gerakan yang dapat dilaksanakan bukan hanya untuk desa atau kelompok Masyarakat saja, namun juga di kota, di sekolah, di pondok pesantren, di kantor, di lembaga lembaga dan Korporasi. Saemaul Undong dioperasikan oleh sekelompok atau komunitas orang-orang yang ingin sukses dan bahagia yang ingin memberi manfaat dan membahagiakan orang lain. Karena itu hasrat atau keinginan Ini akan ditularkan atau dipindahkan bukan oleh orang lain tetapi oleh “SAYA” sendiri, tidak sendirian tetapi dengan ORANG LAIN, bukan dengan pasif tetapi AKTIF.  Sebaik baik manusia atau komunitas adalah yang paling bermanfaat atau paling dapat membahagiakan sesama dan lingkungannya. “Semakin banyak kau beri, semakin banyak kau dapat. Semakin banyak kau ambil, semakin banyak kau berkurang” (The more you give, the more you have. The more you take, the more you less). Karena itu kunci utama menjalankan Gerakan Saemaul itu adalah pada spirit Pantangnyerah, Berdikari & Gotongroyong. Pantangnyerah berarti Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ihlas  sampai Tuntas; Berdikari arinya mandiri tidak bergantung kepada siapa siapa termasuk kepada Pemerintah selain doa kepada Allah dan hasil Keringat, Darah dan Airmatanya sendiri; dan Gotongroyong, kerja bersama karena sholat bersama saja pahalanya 27X, maka gotong royong lebih dari dua kepala saja sudah bisa menghasilkan kerja melebihi kerja secara sendiri sendiri.

Kunci gotong royong adalah kebersamaan dan kerja sama yang dilandasi keihlasan dan persaudaraan. Keihlasan dan persaudaraan hanya bisa kalau ada kepercayaan satu sama lain karena saling menghormati dan tenggang rasa atau toleransi kepada semua pihak yang berpartisipasi apapun perbedaannya apakah beda di strata sosial, agama, ras, keyakinan, politik dll. Ini adalah sifat universal yang sudah menjadi sifat hakiki manusia karena sejak lahir sudah di input oleh Pencipta kedalam hati setiap bayi yang lahir. Hal ini juga di ajarkan oleh setiap agama dan budaya yaitu sifat Kasih Sayang dan welas asih, rasa peduli (caring), rasa mengasihi (giving), berbagi (sharing) dan rasa menyintai (loving).

Visi

Mewujudkan desa pancasila yaitu desa yang membangun terwujudnya Indonesia Emas 2045 (Baldatun, Thayyibatun Warobbun Ghofur)

Misi

  1. Menjadi inkubasi desa agar menjadi desa pancasila
  2. Membentuk suatu pemerintah desa yang melindungi segenap warga desa
  3. Memajukan kesejahteraan warga desa
  4. Mencerdaskan kehidupan warga desa baik spiritual, emosional, intelektual, dan vokasional
  5. Mendidik warga desa melalui 5 Pilar Gerakan Desa Emas agar terlaksananya ketertiban desa dan keadilan sosial bagi seluruh warga desa

Sumber DesaEmas.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *